Pesantren Al-Ulfah, Rancah, Ciamis

waktu baca 5 menit
Senin, 4 Mar 2024 12:56 0 130 Dudi Triaji
Nama:Al-Ulfah
Bahasa Arab:الألفة
Alamat::Desa Rancah, Dusun Karanganyar, Kampung Babakan Rt. 07/ Rw. 22, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat
Klasifikasi:Salafiyah dan Khalafiyah
Afiliasi:Ahlussunnah wal Jamaa’ah (Aqidah: Asy’ari, Maturidi, Fiqih: Imam Syafi’i, Tasawuf: Imam Ghazali dan Imam Junaed Al-Baghdadi)
Nomor Telepon:0852-2136-1499
Email:
Situs Web:
Media Sosial:https://www.instagram.com/santrialulfahrancah
NSPP:510032070381
Tahun Berdiri:1970
Pendiri:KH. Anwar Sobandi
Pimpinan:M. Asep Aenurridho Anwar, M.Pd
Pengasuh/Dewan Kiyai/Ustadz:KH. M. Yusuf Amin
KH. Maman Nurul Jalal
Yayasan:YAYASAN AL-ULFAH KARANGANYAR
Nama Alumni:IKAPPA ( Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-Ulfah)
Motto:


Pondok Pesantren Al-Ulfah, yang terletak di Desa Rancah, Dusun Karanganyar, Kampung Babakan Rt. 07/ Rw. 22, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat, Indonesia, didirikan pada tahun 1970 oleh KH. Anwar Sobandi.

Sejarah
Nama “Al-Ulfah” diberikan oleh gurunya, Syekhuna Badrudzaman Garut pada tahun 1960-an, yang berarti “cinta atau kasih sayang”. Tujuan dari pemberian nama ini adalah agar di Pondok Pesantren ini senantiasa dipenuhi dengan rasa kasih dan cinta terhadap seluruh ummat.

Sebelumnya, KH. Anwar Sobandi bernama KH. Anwar Sanusi. Beliau mengganti namanya untuk menjalankan amanah dari ayahandanya. Sebelum ayahandanya meninggal dunia, beliau berpesan, “Nama sebenarnya kamu adalah Anwar Sobandi bukan Anwar Sanusi, jadi pakailah nama Anwar Sobandi”. Dari sana, nama Anwar Sanusi tidak dipakainya lagi.

KH. Anwar Sobandi adalah seorang ulama yang berkarismatik tinggi dan telah banyak menuntut ilmu, baik di dalam maupun di luar negeri. Ia mampu menguasai Bahasa Arab, Bahasa Inggris, ilmu fiqh, tasawuf, dan lain-lain. Salah satu pengalaman menariknya adalah ketika beliau pulang dari Arab Saudi membawa kitab sebanyak 1 kolbak, yang pada saat itu mendapatkan izin langsung dari Raja Arab karena muatannya yang sangat banyak dan juga kedekatannya dengan Raja di Arab.

Sebelum mendirikan Pondok Pesantren Al-Ulfah, KH. Anwar Sobandi pernah mondok di pesantren di Banjar sekitar tahun 1966, lalu pindah ke Ponpes Babakan Falah Tarogong Garut tahun 1967. Di sana, ia belajar tentang bab-bab Shalat dan Ahadisul Fiqhi. Pada tahun 1969, beliau pulang dari Garut dan melangsungkan akad pernikahan, dimana saat itu umurnya menginjak 29 tahun dan istrinya menginjak 11 tahun. Dari hasil pernikahan tersebut, KH. Anwar Sobandi dikaruniai tujuh orang anak, lima perempuan dan dua laki-laki. Mereka yang membantu beliau dalam mengajarkan ilmunya kepada santri dan masyarakat adalah para anak dan menantunya.

Pembangunan Pondok Pesantren Al-Ulfah mendapat dukungan positif dari masyarakat, terutama masyarakat Rancah. Masyarakat ikut andil dalam pembangunan Pondok Pesantren ini dengan membentuk kepanitiaan pembangunan yang dipimpin oleh KH. Umar dan dibantu oleh Suharja sebagai Kepala SMP 2 Rancah, yang menggiring pelajarnya pada saat hari libur (Sabtu dan Minggu) untuk membantu kelangsungan pembangunan Pondok Pesantren Al-Ulfah.

Pembangunan dimulai dengan mendirikan Masjid Al-Ulfah, diikuti dengan pembangunan Pondok Putra dan Putri. Pada saat pendirian, tidak ada kendala yang dapat menghentikan semangat KH. Anwar Sobandi, meskipun ada beberapa kendala yang muncul, seperti tanah wakaf yang diambil kembali oleh ahli warisnya, padahal sudah direncanakan untuk digunakan sebagai perluasan Pondok Pesantren.

Saat pembangunan berlangsung, sudah ada beberapa santri mukimin yang menetap di Pondok Ulfah, walaupun hanya dari kerabatnya saja. Pada saat itu, santri ditampung di rumahnya, sembari menunggu jumlah santri bertambah. Setelah selesainya pembangunan, jumlah santri semakin bertambah banyak, dan bangunan Pondok Pesantren semakin berkembang. Hingga saat ini,  Pondok Pesantren Al-Ulfah tetap kokoh dan berkontribusi positif bagi agama, umat, masyarakat, dan Negara Republik Indonesia.

Sebelum dibangunnya Pondok Pesantren Al-Ulfah, KH. Anwar Sobandi telah membuat sebuah majelis pengajian untuk masyarakat sekitar yang bertempat di Karanganyar Rt 02, yang diberi nama Majelis Al-Ulfah. Setelah tanah tersebut akan dipergunakan oleh pemiliknya, yang tak lain adalah adik kandung dari istrinya, KH. Anwar Sobandi bertekad untuk membangun rumah di daerah Babakan, masih dalam satu dusun namun beda Rt, yaitu Rt 07.

Tanah tempat KH. Anwar Sobandi membangun rumah, masjid, dan Pondok Pesantren adalah tanah warisan dari sang ayah. Tanah tersebut secara kebetulan berada di samping tanah milik Ummu Kulsum, istri KH. Anwar Sobandi, yang juga merupakan tanah warisan orang tua Ibu Ummu Kulsum.

Dari awal berdirinya, Pondok Pesantren Al-Ulfah berbasis salaf, yang mengkaji ilmu fiqih, nahwu, sharaf, bayan, maani, dan mantiq. Namun, seiring berjalannya waktu, metode pengajaran di Pondok Pesantren ini ditambah dengan metode Qira’ati untuk membaca Al-Qur’an. Sekarang, Pondok Al-Ulfah terkenal dengan metode pengajaran Al-Qur’an. Metode Qira’ati ini diperkenalkan oleh KH. M. Yusuf Amin, menantu KH. Anwar Sobandi yang menikah dengan putri pertamanya, Siti Maria Ulfah.

Pembelajaran

Program belajar di Pondok Pesantren Al-Ulfah pada dasarnya serupa dengan pesantren lainnya dalam hal kitab-kitab yang digunakan dan metode pembelajarannya. Akan tetapi, yang membedakannya adalah kegiatan ngaji pasaran di bulan Ramadhan, di mana setiap bulan suci tersebut diadakan pasaran Qur’an dengan menggunakan kitab Jazariyah. Selain itu, di Ulfah, Sholat Tarowih dilakukan dengan 20 rokaat dan satu juz setiap malam, diikuti dengan Sholat Witir sebanyak 11 rokaat pada dini hari sekitar pukul tigaan. Selain itu, setelah Dzuhur di bulan suci Ramadhan, diadakan tadarus bersama yang menggunakan sistem sorogan dan dipimpin oleh K.H. Muhammad Yusuf Amin. Para santri aktif mengaji setiap hari, belajar makhorijul huruf, serta menghafal Al-Quran dan Hadist. Bahkan, pada hari libur seperti Jum’at, kegiatan belajar tetap berlangsung dengan menggantikan agenda ngaji dengan tahlilan dan yasinan di masjid pada malam Jum’at, serta tamrinan setelah Sholat Isya di aula. Libur panjang juga dimanfaatkan untuk belajar, seperti 5 hari terakhir bulan Ramadhan dan 10 hari setelah Idul Fitri.

Fasilitas
Masjid, Asrama Putra dan Putri, Aula, Kantor Sekretariat

Pendidikan Formal dan Non Formal

1. SPS AL ULFAH
2. SMP IT Sa’adatul Ulfah
3. SMA IT Sa’adatul Ulfah
4. KoorCab Qiroati Kabupaten Ciamis

Sumber : Oppa Media

Dudi Triaji

Dudi Triaji

Pegiat Kepemudaan dan Remaja

Home
Kontak Kami
Search
Kembali